Ketika seseorang memutuskan menjadi
seorang mahasiswa, adalah wajib untuk mengetahui bagaimana menjadi mahasiswa
dan apa yang seharusnya diperjuangkan. Mahasiswa bukan lagi anak sekolahan
biasa, datang lalu duduk manis di kelas, berkeliling perpustakaan dan kantin,
atau bersorak ketika jadwal pelajaran kosong lantas pulang dan berakhir di
rumah atau tempat kos. Jadi, prinsip utama yang perlu dimiliki ialah kesadaran
terhadap predikat baru.
Pandangan terhadap mahasiswa sebagai
kaum intelektual (punya modal dan potensi) dan bibit perubahan bisa dianggap
sebuah superioritas yang layak untuk dibuktikan. Sehingga, anggapan bahwa lisan
lancar berteori namun kelu ketika ditanya bukti, perlahan akan terhapus. Peran
serta mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat adalah harapan banyak orang
karena sampai saat ini presentase mahasiswa yang mau menarik diri dan berkumpul
dengan masyarakat secara langsung masih minor dibanding yang belum.
Bukan masanya lagi bila aktivitas
belajar dan mengasah diri mahasiswa dibatasi pagar kampus dan perpustakaan
saja. Pengalaman belajar yang sesungguhnya dan kematangan pribadi justru akan
banyak diperoleh ketika berada dekat di tengah masyarakat. Bukankah ada banyak
sekali “lahan” (profit dan non-profit) yang bisa digarap mahasiswa? Jenis kegiatan sosial-kemasyarakatan bisa
dipilih semisal pemberantasan buta aksara, mengadakan workshop keterampilan
kerja, intensfikasi pendidikan (membuka taman bacaan, sekolah gratis bagi anak
kurang mampu), konservasi lingkungan, Karang Taruna, dsb.
Selain aktif secara langsung, salah
satu opsi yang mungkin menarik adalah mahasiswa
banyak berpartisipasi dalam kegiatan penelitian masalah sosial. Jenis
penelitian tentu saja disesuaikan dengan keilmuan yang didapatkan selama
perkuliahan, untuk selanjutnya menawarkan inisiatif/solusi yang relevan dan
pencegahan di waktu mendatang. selain terasa manfaatnya bagi masyarakat, skripsi
atau thesis tidak akan menjadi momok lagi bagi mahasiswa.
Jika sudah sadar diri dan tahu
peluang, maka tinggal menunggu keputusan dan aksi nyata. Yang jelas, mahasiswa jangan
ibarat kepompong yang selamanya menjadi kepompong tanpa pernah menetas menjadi
kupu-kupu, terkungkung dalam ketidakberdayaan.
Heru Herawan
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam
STAIN Purwokerto








